Upacara Sekaten sebagai Identitas Budaya Yogyakarta

 

Upacara Sekaten sebagai Identitas Budaya Yogyakarta

Oleh Siti Nurhalimah

Sumber: Tirto.id

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan tradisi, namun seiring perkembangan zaman yang semakin modern, sebagian tradisi mulai kehilangan tempat di lingkungan masyarakat. Salah satu tradisi yang masih bertahan yaitu upacara Sekaten yang dilakukan oleh masyarakat Yogyakarta. Upacara ini dilaksanakan setahun sekali sebagai perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Upacara sekaten ini bukan sekadar perayaan, melainkan menjadi identitas dari kearifan lokal masyarakat Yogyakarta.

Kata Sekaten berasal dari nama sepasang gamelan milik keraton Yogyakarta yang dimainkan setiap perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, yaitu Sekati. Pelaksanaan upacara Sekaten mulai terjadi pada masa Kerajaan Demak. Upacara ini menjadi sarana bagi Sunan Kalijaga dalam menyebarkan agama Islam kepada para warga kerajaan yang pada saat itu mayoritas menganut agama Hindu-Buddha. Sunan Kalijaga menciptakan seperangkat gamelan sebagai pengiring dari lagu-lagu ciptaanya sendiri. Gamelan kemudian dibunyikan untuk menarik perhatian warga kerajaan agar mau berkumpul. Setelah warga kerajaan berkumpul, Sunan Kalijaga mengajarkan tentang agama Islam dan membimbing mereka mengucapkan dua kalimat syahadat (syahadatain) sebagai syarat masuk Islam. Oleh karena itu, Sunan Kalijaga mendapat julukan sebagai “Kyai Sekati” atau “Sekaten” yang berasal dari kata syahadatain (Ahmad dkk., 2021). Sejak saat itu, upacara Sekaten menjadi salah satu kearifan lokal yang sangat kental dengan perpaduan budaya Jawa dan agama Islam.

Dalam pelaksanaannya, upacara Sekaten terdiri dari beberapa rangkaian yang sarat makna. Menurut Novianty dkk. (2025), rangkaian upacara sekaten dimulai dengan selametan atau wilujengan dengan tujuan mencari ketenangan dan kedamaian. Selanjutnya, tujuh hari sebelum puncak acara Sekaten, gamelan Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Kanjeng Kiai Nagawilaga dikeluarkan dari keraton lalu dibawa ke masjid Agung. Gamelan tersebut diletakkan di Pagongan utara dan selatan atau minyos gongos. Kedua gamelan tersebut dibunyikan terus-menerus selama tujuh hari, kecuali pada hari Jumat dan saat adzan berkumandang. Rangkaian berikutnya yaitu numlak wajig, yaitu upacara yang menandai pembuatan gunungan wadon dan diiringi oleh gejok lesung di Magangan Kidul. Setelah itu, dilakukan rangkaian miyos dalem, yaitu acara yang dihadiri oleh seluruh aparat Keraton, Sultan, Bupati, serta masyarakat umum. Acara dilanjutkan dengan kondor gongso atau biasa disebut gamelan yang dibawa masuk kembali kedalam keraton. Puncak acara perayaan sekaten yaitu grebeg maulid, yaitu dikeluarkannya sepasang gunungan sesudah diberi doa dari ulama dari dalam masjid agung. Gunungan tersebut kemudian diperebutkan oleh masyarakat yang bermakna sebagai keberkahan dan kemakmuran.

Upacara Sekaten ini tentunya memiliki banyak makna dalam pelaksanaannya. Menurut Nugraha (2020), nama Sekaten yang berasal dari kata Sekati bermakna seimbang atau sama rata antara hal yang baik dan yang buruk. Kemudian, pemberian nama terhadap sepasang gamelan juga memiliki arti, Kanjeng Kiai Gunturmadu berarti sebuah anugerah atau wahyu yang diturunkan dari Tuhan, sedangkan Kanjeng Kiai Nagawilaga berarti lestari dalam memenangkan peperangan atau sebuah kemenangan yang abadi dalam peperangan. Selain itu, gunungan wadon memiliki makna yaitu suatu sesaji atau persembahan yang dibuat oleh Keraton Yogyakarta yang untuk selamatan atau ucapan syukur di Keraton Yogyakarta. Isi dari gunungan wadon tersebut juga bermakna sebagai sebagai gambaran dari kehidupan duniawi dan kehidupan rohani yang dimana Tuhan sebagai penguasa alam semesta memegang kendali terhadap semua kegiatan di alam semesta. Secara keseluruhan, upacara ini dilakukan untuk memaknai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Upacara Sekaten di Yogyakarta ini merupakan salah satu warisan budaya yang harus dijaga. Tercerminnya perpaduan nilai religius, sosial, dan budaya pada upacara ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai lokal masih bisa terjaga ditengah perkembangan zaman dan teknologi yang semakin canggih. Upacara ini tidak hanya menjadi sarana penyampaian ajaran Islam khususnya tentang kelahiran Nabi Muhammad SAW, melainkan menjadi tradisi yang dapat memperkuat interaksi mayarakat sekaligus melestarikan seni dan budaya. Upacara sekanten ini harus terus dilestarikan agar warisan budaya tetap hidup dan relevan hingga generasi yang akan datang. Pelestarian upacara ini tentu memerlukan upaya bersama dari berbagai pihak, yaitu pihak keraton, pemerintah daerah, masyarakat, dan lembaga pendidikan. Melalui upaya bersama, upacara sekaten dapat menjadi kearifan lokal yang menjadi identitas dan kebanggaan masyarakat Yogyakarta.

Sumber Referensi:

Ahmad, I., Syafrijal N, B., Octa N, A., & Rizky P, A. (2021). Tradisi Upacara Sekaten di Yogyakarta. Kawruh: Journal of Language Education, Literature and Local Culture, 3(2), 49. https://doi.org/10.32585/kawruh.v3i2.1718


Novianty, A., Wulandari, A., & Nur Shafa, Z. (2025). Nilai dan Norma Komunikasi Pada Upacara Adat Sekaten di Yogyakarta. Global Komunika: Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 8(1).

Nugraha, P. E. (2020). Tradisi Sekaten di Keraton Yogyakarta. Universitas Sanata Dharma, 1–11. https://www.academia.edu/download/66092058/Tradisi_Sekaten_di_Keraton_Yogyakarta.pdf

 

Ah

 

Komentar